Showing posts with label Poemas. Show all posts
Showing posts with label Poemas. Show all posts

Sunday, June 24, 2018

Pamrih Sumber Kepedihan


Kubuka kembali ocehan dasa warsa silam, dan beberapa curahan kawan di bumantara. Katamu, 'siapa yang dapat menggenggam pasir? Mencintai seharusnya tanpa pamrih.'


Haus pengakuan dan hasrat ingin dikenang olehmu menjadi impian kawan-kawan yang berempati padamu. Tentu saja kau kadang tak merasa nyaman, pun memuliakan kesendirian. Lagipula kau tak butuh belas kasihan. Seperti yang tertuang dalam tulisan seseorang. Sudahkah kau baca suratnya itu? Dirinya mengharap semesta memberkati matamu sekedar membesuk sebentar. Dirinya mengharap tanggap darimu. Dirinya bukan siapa-siapa, bukan manungsa yang kau kenal baik.

Namun, cahaya terlanjur kabur. Membutakan belas kasihmu yang memudar jauh sebelum kau mengenal ... aku yang bukan aku. Bumi menutup pintu serta merta memberi pagar pada dindingnya yang tinggi menjulang,  dengan tujuan, tiada yang dapat mengusik rapuh jiwanya.
Yang tiada bertuan, dan,
Yang masih kau sembunyikan. Maka, adapun tata ucap yang berkelindan dan keras kepala menyesakkan. Menuntut perhatian yang berakar dari hampa dan perih.



Siapa suruh percaya mencintai harus pamrih?
Cahaya pun tak pernah membalas jasa pada bumi dan hal-hal yang mengitarinya. 



@thea.senorita

Friday, June 8, 2018

Sebuah Puisi : Mahakam vs Magdalena

SUNGAI MAGDALENA sumber foto : Juan Jose Horia




SUNGAI MAHAKAM sumber foto : www.jokar.au






Engkau bisikkan nama pada hembusan angin,
Pada bayang-bayang senyap,
Pada senyuman yang menguap lantas mengundang lelap.

Engkau dataran... mendarat bimbang,
Engkau lautan, menautkan Mahakam-Magdalena,
Pada jalinan benang yang kau imani sebagai bangsa Inca.

Engkau hamburkan segala warna sempurna padanya,
Pada alam, siang dan malam
Pada keramahan dan keramaian
Pada senja dan kesenjangannya,
Engkau satukan seluruh  khayal lantas menetas tanpa batas.



Senorita Septy 
9 Juni 2018

Tuesday, April 3, 2018

Soneta : Wanita Sukar II

pic by www.pausecafein.fr




Serba-serbi benang menjelma
semburat bayang ; pancarona kirana sore itu
gejolak mendendam merah tua;
menguak perih pada romansa selasa

lahar di mata tumpah
dalam wadah penat
di antara kerongkongan
saliva-saliva merindu tetesnya

sumur-sumur menyepi
di ujung hari dan melintasi
bunyi-bunyi yang dirindukan puisi
pijakan terlahir ; sendiri mengalpa hening,

membawa sekeranjang memori
murni. kebeningan menyeruak kenangan.


Senorita Septy

Januari 2017, Maret 2018







Monday, March 12, 2018

Aqui Te Amo (Pablo Neruda Poema 18)





Source photography from : Google



(Spanish-Indonesian)


Aqui te amo


En los obscuros pinos,
Se desenreda el viento
Fosforece la luna
Sobre las aguas errantes.

Andan dias iguales
Persiguiendose.
Se descine la niebla en danzantes figuras.

Una gaviota de plata se descuelgadel ocaso.
A veces una vela.
Altas, altas estrellas.

O la cruz negra de un barco ...
Solo.

A veces amanezco, 
Y hasta mi alma esta humeda.

Suena, resuena el mar lejano...
Este es un puerto.

Aqui te amo.

Aqui te amo 
Y en vano te oculta el horizonte.

Te estoy amando,
Aun entre estas frias cosas.

A veces van mis besos,
En esos barcos graves.

que corren por el mar,
hacia donde no llegan.

Ya me veo olvidado,
como estas viejas anclas.

Son mas tristes los muelles 
Cuando atraca la tarde.

Se fatiga mi vida,
Inutimente hambrienta.

Amo lo que tengo,
Estas tu tan distante,

MI hastio forcejea,
Con los lentos crepusculos,

Pero la noche llega 
Y comienza a cantarme.

La luna hace girar,
Su rodaje de sueno.

Me miran con tus ojojs,
las estrellas mas grandes,

Y como yo te amo,
Los pinos en el viento.

Quieren cantar tu nombre,
Con sus hojas de alambre.




terjemahan dalam bahasa Indonesia



Inilah aku yang mencintaimu.

Pada pinus hitam angin mengurai kekusutan.

Bulan berpendar seperti fosfor di air tak berhulu-muara.

Hari demi hari, sama saja, saling memburu-mengejar.



Salju tak tergulung dari sosok-sosok berdansa.

Camar berbulu perak tergelincir terbang dari barat.

Sesekali tampak sebuah layar. Tinggi, bintang yang jauh.



O ada silang hitam sebuah kapal.

Bersendiri.

Sesekali aku terbangun diri hari, dan jiwaku basah.

Di kejauhan laut bergemuruh disahut gemuruh. 

Inilah pelabuhan itu.

Inilah aku yang mencintaimu.



Inilah aku, ketika cakrawala sia-sia menyembunyikanmu 

Aku mencintaimu walau segala membeku mengepung.

Sesekali kecupanku berlayar bersama kapal besar

menyeberangi laut menuju yang tak tersampai. 



Aku merasa dicampakkan bagai jangkar tua.

Pelabuhan makin murung ketika petang tertambat di sana.

Hidupku jatuh kian letih, lapar tanpa ada sebabnya.

Aku mencintai apa yang tak bisa kupunyai. Engkau begitu jauh.



Kebencianku tak terebut oleh senja yang lamban.

Tapi malam tiba jua, dan mulai bernyanyi bagiku.

Bulan membalikkan arah jarum jam mimpinya. 



Bintang terbesar menatapku dengan matamu.

Dan seperti aku mencintaimu, pinus dan angin

daun yang berjalin ingin melagukan namamu. 


Terjemahan saya ambil dari blog berikut ini :
 inilah aku yang mencintaimu








+Thea Senorita



Terimakasih sudah berkunjung

Saturday, June 17, 2017

Harapan (Esperanza) Oleh Juan Ramon Jimenez


Esperanza


Esperar! Esperar! Mientras, el cielo;Cuelga nubes del oro a las lluviosas;Las espigas suceden a las rosas;Las hojas secas a la espiga; el yelo;Sepulta la hoja seca ; en largo duelo. Despide el ruiseƱor  las amorosas, Noches; y las volubles mariposas,

Doblan en el caliente sol su vuelo.
Ahora, a la candela campesina, la lenta cuna de mis sueƱos mecen,
Los vientos del octubre colorado,
La carne se me torna mĆ”s divina,
Viejas, Las ilusiones, encanecen, y lo que espero, ¡ay! es mi pasado.


Harapan

Harapan! Harapan! ketika langit,
hujan emas dari awan yang menggantung,
mawar-mawar berduri,
kering meninggalkan tangkainya, membeku (El Yelo kata serapan dari bahasa tagalog. Bahasa Spanyolnya 'hielo' artinya 'dingin' atau 'es' dan di sini bisa diartikan pula membeku).
dia mengubur dedaunan kering, dalam perkelahian yang panjang;
ucapkanlah selamat tinggal pada burung bul-bul tercinta,
malam-malam dan kupu-kupu berubah-ubah (tak dapat diprediksikan),
Kini, lilin para petani
perlahan-lahan membuai mimpi-mimpi tangguhku,
udara (suasana) di bulan oktober kemerah-merahan
Menyempurnakan kembali takdir
Jauh, segala ilusi berubah menjadi abu-abu, betapa itu apa yang kuharap!
Masa laluku.






Diterjemahkan oleh Senorita A Septy.


Sumber puisi berbahasa Spanyol di link ini :

http://amediavoz.com/jimenez.htm#ESPERANZA

Friday, June 26, 2015

Old Times

3 months feel like 3 second times
I was asking myself why we broke up
That day I found a man being so bless
That day I feel so lucky in love with you
That day feel like yesterday


Time after time I lost myself
I wasn't ready yet for growing up
I only think about my carrier
Because i'm still fight for anything else

We meet again with our new life
We've got a work together
I feel the same in the past
But we can't together anymore
I keep asking myself

We meet  again and again
In the same job
It's not my fault
It's not yours
It's destiny


@thea.senorita

Thursday, June 23, 2011

Langkahku






Langkahku tak pernah berhenti,

Aku cium bau angin yang menyesakkan,

bahkan aku pun menghirupnya dalam-dalam,

Aku lewati lorong gelap seraya memeluk keheningan,

Sejenak menatap ke depan,

Memikirkan dalam kebisuan,


Langkahku tetap menuju padamu.




@thea.senorita

Tuesday, April 6, 2010

Give All To Love by Ralph Waldo Emerson

GIVE ALL TO LOVE:


Give all to love
Obey thy heart
Friends, Kindred, Days,
Estate, good-fame,
Plans, credit, and the muse,
Nothing Refuse


‘Tis a brave master:
Let it have scope
Follow it uttery
Hope beyond hope
High and more high
It dives into noon
With wing unspent,
Untold intent

But it is a god, knows it’s own path
And the outlets of the sky
It was not for the mean

It requireth courage stout,
Souls about doubt,
Valor unbending,
It will reward
They shall return
More than they were,
And over ascending.


By Ralph Waldo Emerson


Monday, March 15, 2010

My Love Is Like To Ice by Edmund Spenser



Pic by www.pausecafein.fr


My Love is Like to ice, and i to fire
How comes it then that this her cold so great
Is not dissolved through my so hot desire,
But harder grows the more I her entreat?
Or how comes it that my exceeding heat
Is not allayed by her heart-frozen cold,
But that I Burn much more in boiling sweat,
And feel my flames augmented manifold?
What more miraculous thing may be told,
That fire, which all things melts, should harden ice,
And Ice, which is congeal'd with senseless cold,
Should kindle fire by wonderful device?
Such is the power of love in gentle mind, 
That it can alter all the course of kind.


~Edmund Spenser~





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...